Peranan Pemimpin Dan Generasi Muda

majalengka news

Artikel: Peranan Pemimpin Dan Generasi Muda Terutama Perempuan Dalam Pembangunan Bangsa
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum.
Nama & E-mail (Penulis):
MIFTAHUL JANNAH
Saya Siswi di SMU PLUS PMS RAYA
Tanggal: 13 Mei 2002
Judul Artikel: Peranan Pemimpin Dan Generasi Muda Terutama Perempuan Dalam Pembangunan Bangsa
Topik: PEMIMPIN DAN PEREMPUAN

 

Sebuah pepatah mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal sejarahnya. Indonesia pernah terkungkung dalam cengkeraman penjajahan Belanda selama lebih kurang 3 ½ abad lamanya, ditambah lagi 3 ½ tahun dalam penjajahan Jepang. Jika lantas kemudian Indonesia dapat meraih kemerdekaannya, ini merupakan hasil dari pengorbanan yang sangat besar dari seluruh komponen bangsa Indonesia.

Kemudian, perjuangan yang harus dilakukan oleh bangsa Indonesia tentunya tidak hanya sekedar merebut kemerdekaan, kalau sudah merdeka lantas berhenti berjuang. Kita harus mengingat bahwa kemerdekaan bukanlah akhir dari sebuah perjuangan. Akan tetapi kemerdekaan itu menuntut kebijakan- kebijakan dan kreativitas yang akan mengisinya dengan sesuatu yang disebut Pembangunan Nasional, yang ditujukan untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur serta masyarakat yang madani berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Pembangunan Nasional untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur brdasarkan Pancasila dan UUD 1945 tersebut tidak akan pernah tercapai jika tidak didukung sepenuhnya oleh seluruh rakyat Indonesia. Negara Republik Indonesia menganut asas demokrasi yang bersumber kepada nilai- nilai kehidupan yang berakar dalam budaya bangsa Indonesia. Perwujudan dari asas demokrasi itu diartikan sebagai paham kedaulatan rakyat, yang bersumber kepada nilai kebersamaan, kekeluargaan dan kegotongroyongan.

Demokrasi ini juga memberikan penghargaan yang tinggi terhadap nilai- nilai musyawarah yang mencerminkan kesungguhan dan tekad dari bangsa Indonesia untuk berdiri diatas kebenaran dan keadilan. Dalam beberapa kurun waktu bangsa Indonesia telah mengalami berbagai peristiwa yang yang dapat mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Selama 32 tahun berkuasa pemerintahan Orde Baru sejak tahun 1996 sampai 1998 begitu banyak penyimpangan- penyimpangan yang sangat tidak manusiawi telah terjadi di bumi Indonesia.

Nilai- nilai kesanggupan dan kerelaan untuk berkorban dengan penuh keikhlasan dan kejujuran dalam mengisi kemerdekaan demi kepentingan bangsa dan negara telah digantikan oleh kerelaan berkorban hanya untuk mengisi kesenangan dan kemakmuran pribadi pihak- pihak tertentu. Terjadinya Kolusi Korupsi Nepotisme pada masa pemerintahan Orde Baru merupakan bukti nyata pengingkaran terhadap sikap keikhlasan dan kejujuran. Tidak hanya itu Indonesia mengalami krisis multi dimensi yang demikian pelik, mulai dari krisis moral, krisis ekonomi, krisis kepercayaan, hingga krisis kepemimpinan. Tumbanganya pemerintahan Orde Baru pada 21 Mei 1998 masih segar dalam ingatan kita bahwa pemerintahan yang tidak bersih dan mengabaikan rasa keadilan tidak akan mendapat dukungan dan kepercayaan dari rakyat. Benarlah apa yang dikatakan pujangga Mesir Syauqy Beyq : Suatu bangsa yang kokoh bertahan. Selama akhlak mewarnai kehidupan.

Apabila akhlak sirna dalam pergaulan. Bangsa itu hancur berantakan. Jatuh pemerintahan Orde Baru, di Indonesia terjadi pergantian pemimpin negara sebanyak tiga kali. Namun selama lima tahun bencana, musibah , malapetaka jauh lebih dahsyat dibanding pada kekuasaan- kekuasaan sebelumnya. Betapa dahsyat apa yang telah terjadi di Ambon, Poso, Timor Timur, Papua, Aceh, Sambas, Sampit dan mungkin di daerah- daerah yang lain, lebih kejam daripada penjajah Jepang, Belanda, Orde lama, dan Orde Baru digabung jadi satu. Ratusan ribu kaum pengungsi diusir dari tanah tumpah darahnya sendiri. Bangsa ini seolah kehilangan kepribadian. Apakah cuma abu- abu derita, arang hitam yang mencoret muka yang bisa ditinggalkan untuk kami generasi muda?

Kita merindukan pemerintahan yang bersih, kuat dan berwibawa.Seluruh bangsa Indonesia mengharapkan suatu kondisi pemerintahan yang melaksanakan asas- asas moral dan budi pekerti kemanusiaan yang luhur seperti yang diamanatkan Pancasila dan UUD 1945. Aparatur pemerintahan hendaknya memiliki kejujuran, keikhlasan, dan semangat pengabdian untuk melaksanakan amanat. Hal itu dilakukan bukan untuk mendapatkan imbalan, melainkan karena keyakinan dan kebenaran, serta menghormati hak dan kewajiban orang lain.

Disamping itu, peran serta generasi muda juga sangat dituntut dalam kehidupan politik nasional dan kegiatan internasional harus terus ditingkatkan melalui keikutsertaannya dalam organisasi kemasyarakatan lainnya sebagai upaya pendidikan politik sehingga proses kaderisasi dapat berlangsung secara wajar dan berkesinambungan.

Kepeloporan pemuda dalam pembangunan bangsa dan negara harus diupayakan agar pemuda memiliki jiwa kejuangan, keperintisan dan kepekaan terhadap lingkungan. Hal ini dibarengi pula oleh sikap mandiri, disiplin, dan memiliki sifat yang bertanggungjawab, inovatif, ulet, tangguh, jujur, berani dan rela berkorban dengan dilandasi oleh semangat cinta tanah air.

Fakta menunjukkan bahwa jumlah perempuan di negara kita jauh lebih besar dibanding dengan jumlah laki- laki. Dr. Yusuf Qardhawi dalam bukunya Umat Islam Menyongsong Abad ke-21 menuliskan bahwa perempuan berada diantara dua zaman kejahiliahan, yaitu abad ke- 14 dimana kemerdekaan perempuan dipasung, bahkan keluar rumahpun dianggap suatu aib dan sekarang di abad 20-an perempuan bebas sebebas- bebasnya hingga terkesan merendahkan martabatnya sendiri. Perempuan merasa bangga bila dapat menunjukkan lekuk tubuhnya dengan pakaian yang seksi, perempuan merasa senang bila dapat menjadi aktris atau supermodel, dan segala bentuk kebebasan yang cenderung menjatuhkan dirinya tanpa ia sadari.

Selanjutnya bagi bangsa Indonesia yang presentasi penduduk perempuannya lebih besar dibanding laki- laki, sudah barang tentu perempuan menjadi bagian yang sangat penting bagi bangsa dan negara ini. Sehingga boleh dikatakan laki- laki dan perempuan di negara kita bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Laki- laki tanpa perempuan bagai malam tanpa bintang, bagai purnama diliputi awan kelam, bagai gulai tanpa garam. Mana mungkin sempurna laki- laki tanpa perempuan. Hal ini menunjukkan urgensi IMTAQ DAN IPTEK terlihat penting bagi perempuan sebab sekarang yang penting bukanlah perbedaan gender akan tetapi SDM yang berkualitas.

Perempuan Indonesia pada saat ini diharapkan sebagai sosok yang berpendidikan, berkualitas moral dan akhlak yang tinggi dan mulia.Perempuan merupakan suatu cerminan didalam sebuah negara, ia merupakan suatu tonggak yang sangat kokoh. Rasulullah SAW mendudukkan perempuan ke tingkat yang mulia sehingga diharapkan karyanya mensejahterakan bangsa dan negara : Perempuan adalah tiang negara. Apabila baik baiklah negara, apabila buruk maka hancurlah negara.

Oleh karena itu, sejauh mana perempuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dapat berperan aktif, apakah sebagai pekerja sosial, tokoh pendidikan, atau bahkan penegak hukum, tokoh politik, dan jajaran pemerintahan, sejauh itulah perempuan memiliki eksistensi sebagai pilar- pilar negara sehingga keberadaannya dianggap penting di setiap segi kehidupan bangsa dan negara.

Albert Einstein sang penemu teori relativitas berkata: “Science without religion is lame, Religion without science is bellied” Ilmu tanpa agama akan lumpuh dan menyesatkan, agama tanpa ilmu adalah lemah dan lamban. Hal ini sesuai dengan konsep IMTAK DAN IPTEK yang telah saya uraikan diatas.

MIFTAHUL JANNAH

Saya MIFTAHUL JANNAH setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .

 

Judul: KAJIAN KRITIS MENGENAI PERANAN PEMIMPIN DAN GENERASI MUDA TERUTAMA PEREMPUAN DALAM PEMBANGUNAN BANGSA

Nama & E-mail (Penulis): Fenty Mustyka Aty
Saya guru Bahasa Inggris di SMPN 4 maja
Topik: Pemimpin dan Perempuan
Tanggal: 24 – 2 – 2011

 

Mencermati berbagai gejolak yang sedang berkembang berhubungan dengan masalah pemimpin dan perempuan saat ini saya tergerak untuk mengkaji hal tersebut dari sisi seorang perempuan. Karena penulis adalah seorang perempuan, seorang abdi negara, seorang istri sekaligus ibu dari seorang anak perempuan. Kemampuan melakukan kajian kritis sangat diperlukan oleh guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah untuk melakukan kajian kritis terhadap berbagai aspek yang berkaitan dengan tugas dan tanggung jawabnya, seperti kajian kritis terhadap kurikulum, strategi pembelajaran, artikel dan tulisan ilmiah lainnya. Kemampuan melakukan kajian kritis, dapat digunakan untuk membuat laporan dan memilih materi atau bahan ajar (BBM kajian kritis)

Penulis mengarisbawahi pendidikan agama yang berjalan di sekolah tempat bekerja. Cukup memprihatinkan sekarang ini adalah masalah moral siswa-siswi. Ada kesan seolah-olah pendidikan agama nomor sekian setelah pendidikan asing. Pendidikan pengembangan agamapun terkadang dianggap sepele oleh siswa-siswi tersebut. Mereka merasa sudah sukup pintar dan bisa dengan sekedar tahu cara mengaji Al-Quran. Setelah mengamati hal ini, penulis mempunyai ketakutan luar biasa akan masa depan untuk kaum perempuan yang semakin terkikis moralnya.

Hal ini sangat mengganggu, karena dari pendidikan agama ini justru kita belajar bagaimana posisi pria ataupun perempuan yang baik dimata Sang Pencipta. Yang kalau kita taati dengan baik akan mendatangkan kesinambungan yang baik pula. Menurut saya, perempuan boleh bekerja ataupun berkarya, bahkan menjadi seorang pemimpin. Namun tatkala, perempuan tidak bisa menyampingkan perasaannya dalam membuat sebuah kebijakan. Sebagai akibat dari sikap yang menerima keadaan ini, struktur sosial yang timpang ini akhirnya tidak hanya terus menerus dimitoskan oleh laki-laki, tetapi juga oleh perempuan. Hal tersebut juga berlaku pada kaum perempuan yang memiliki akses kekuasaan yang lebih tinggi (Junaidi. 2007)

Waulaupun diakui penulis bukanlah wanita yang sempurna, namun sebagai tahap awal penulis kajian kritis ini untuk dasar perubahan persepsi baik laki-laki ataupun perempuan terhadap kedudukan dan kewajiban masing-masing. Gender merupakan kajian tentang tingkah laku perempuan dan hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan (Saptari, 1997). Pada tahap selanjutnya, penulis berharap dapat memperbaiki kesalahan yang sedang terjadi. Setidaknya menjadikan perempuan dilingkungan terdekatnya saat ini diharapkan sebagai sosok yang berpendidikan, berkualitas moral dan akhlak yang tinggi dan mulia. Perempuan merupakan suatu cerminan didalam sebuah negara, ia merupakan suatu tonggak yang sangat kokoh.

Namun demikian upaya tersebut tidak akan berhasil dengan baik jika tidak diikuti oleh perubahan dalam konstruksi sosial. harus diadakan dekonstruksi dan reorientasi pemahaman tentang kepemimpinan yang baik. Dekonstruksi sosial pada tahap awal akan berdampak pada perubahan persepsi masyarakat baik laki-laki maupun perempuan terhadap hubungan gender tersebut dikaitkan dengan pendidikan agama yang relevan dengan topik. Sehingga perempuan tidak akan salah mengambil keputusan. Perempuan juga dapat dengan bijak memikirkan terlebih dahulu apa yang harus dilakukan dalam hidupnya.

Ketidakseimbangan berdasarkan gender (gender inequality) mengacu pada ketidakseimbangan akses sumber-sumber yang langka dalam masyarakat. Sumber-sumber yang penting itu meliputi kekuasaan barang-barang material, jasa yang diberikan orang lain, prestise, perawatan medis, otonomi pribadi, kesempatan untuk memperoleh pendidikan dan pelat¬ihan, serta kebebasan dari paksaan atau siksaan fisik (Chafetz, 1991). Namun diharapkan dengan adanya pemahaman yang seimbang akan hak dan kewajiban sebagai seorang perempuan, maka setidaknya akan meminimalisir hal yang dianggap kurang pantas. Hal ini juga akan membantu perempuan untuk tetap berkarya tanpa mengesampingkan aspek pendidikan, berkualitas moral dan akhlak yang tinggi dan mulia.

 

DAFTAR PUSTAKA

BBM, 2007, Kajian Kritis, Jakarta, BPS

Chafetz,J.S, 1991, “The Gender Division of Labor and The Reproduction of Female Disadvantage: Toward an Integrated Theory” dalam Blumberg, R.L, (ed), Gen¬der, Family and Economy, The Triple Overlap. Newbury Park: Sage Publication.

Hariadi,SS,1997,”Aplikasi Jender dalam Pembangunan”, disampaikan pada Penataran Metodologi Penelitian Kajian Wanita Berperspektif Jender. Hotel Sri Wedari Yogyakarta, 7-13 September 1997

Junaidi. 2007. Kajian Teoritis Mengenai Ketimpangan Gender.

Saptari,R, 1997. Studi Perempuan: Sebuah Pengantar dalam Saptari,R. dan Holzner (eds), Perempuan, Kerja dan Perubahan Sosial: Sebuah Pengantar Studi Perempuan.

http://www.docstock.com

http://www.pdf.com

http://www.scribd.com

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Powered by WordPress | Designed by: All Premium Themes Online. | Thanks to Top Bank Free Premium WordPress Themes, wordpress themes 2012 and